Kamis, 28 Juni 2012

Metode Penelitian Pendidikan

here are the methods for you in doing your research.

BAB I
 PENELITIAN SEBAGAI KEGIATAN ILMIAH
A. Hakikat Penelitian
Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan mendorong manusia bertanya untuk mendapatkan penge­tahuan. Setiap manusia yang berakal sehat sudah pasti memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur tentang suatu obyek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal, terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat membe-dakan antara baik dan buruk; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek. Kepekaan indra yang dimiliki, merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut.
Salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim dikatakan sebagai "ilmu". Ilmu adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan dapat dikatakan ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu koherensi dan korespondensi. Koherensi menyatakan bahwa sesuatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan logis atau berpikir secara rasional. Korespondensi menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut didasarkan atas fakta atau realita. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan empirik atau bertolak dari fakta. Dengan demikian, kebenaran ilmu harus dapat dideskripsikan secara rasional dan dibuktikan secara empirik.
Koherensi dan korespondensi mendasari bagaimana ilmu diperoleh telah melahirkan cara mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu agar memiliki nilai kebenaran harus dilandasai oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui penelitian. Banyak definisi tentang penelitian tergantung sudut pandang masing-masing.


Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data, pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan teknik tertentu.
Pengertian tersebut di atas menyiratkan bahwa penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana, 2001). Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, penafsiran dan pengujian data sampai diperolehnya suatau kesimpulan. Informasi dikatakan empiris jika sumber data mengambarkan fakta yang terjadi bukan sekedar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian menggabungkan cara berpikir rasional yang didasari oleh logika/penalaran dan cara berpikir empiris yang didasari oleh fakta/ realita.
Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses berpikir ilmiah yang dituangka dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni pengamatan {observation) dan penalaran {reasoning). Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji kebenarannya secara empirik (berdasarkan fakta).
Terdapat empat langkah pokok metode ilmiah yang akan mendasari langkah-langkah penelitian yaitu:
1.  Merumuskan    masalah.,    mengajukan    pertanyaan    untuk    dicari
jawabannya. Tanpa adanya masalah tidak akan terjadi penelitian,
karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah. Rumusan
masalah    penelitian    pada    umumnya    diajukan    dalam    bentuk
pertanyaan..
2.            Mengajukan hipotesis; mengemukakan jawaban sementara (masih
bersifat   dugaan)   atas   pertanyaan   yang   diajukan   sebelumnya.
Hipotesis penelitian dapat diperoleh dengan mengkaji berbagai teori


berkaitan dengan bidang ilmu yang dijadikan dasar dalam perumusan masalah. Peneliti menelusuri berbagai konsep, prinsip, generalisasi dari sejumlah literatur, jurnal dan sumber lain berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kajian terhadap teori merupakan dasar dalam merumuskan kerangka berpikir sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai alternatif jawaban atas masalah.
Verifikasi data; mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan menganalisis data untuk menguji kebenaran hipotesis. Jenis data yang diperlukan diarahkan oleh makna yang tersirat dalam rumusan hipotesis. Data empiris yang diperlukan adalah data yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam hal ini, peneliti harus menentukan jenis data, dari mana data diperoleh, serta teknik untuk memperoleh data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan cara-cara tertentu yang memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk menguji hipotesis.


  Metode Ilmiah Sebagai Dasar Langkah-langkah Penelitian


4.   Menarik kesimpulan;  menentukan jawaban-jawaban  definitif atas
setiap pertanyaan yang diajukan (menerima atau menolak hipotesis).
Hasil uji hipotesis adalah temuan penelitian atau hasil penelitian.
Temuan penelitian dibahas dan disintesiskan kemudian disimpulkan.
Kesimpulan  merupakan   adalah jawaban   atas   rumusan  masalah
penelitian yang disusun dalam bentuk proposisi atau pernyataan yang
telah teruji kebenarannya.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, penelitian ilmiah meru­pakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengkaji dan memecahkan suatu masalah menggunakan prosedur sistematis berlandaskan data empirik. Berdasarkan proses tersebut di atas, mulai dari langkah kajian teori sampai pada perumusan hipotesis termasuk berpikir rasional atau berpikir deduktif. Sedangkan dari verifikasi data sampai pada generalisasi merupakan proses berpikir induktif. Proses tersebut adalah wujud dari proses berpikir ilmiah. Itulah sebabnya penelitian dikatakan sebagai operasionalisasi metode ilmiah.
Untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, penelitian harus mengandung unsur keilmuan dalam aktivitasnya. Penelitian yang dilaksanakan secara ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada karakeristik keilmuan yaitu:
1.  Rasional: penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan
terjangkau oleh penalaran manusia.
2.              Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati orang
lain dengan menggunakan panca indera manusia.
3.              Sistematis:  menggunakan proses dengan langkah-langkah tertentu
yang bersifat logis.
Penelitian dikatakan tidak ilmiah jika tidak menggunakan penalaran logis, tetapi menggunakan prinsip kebetulan, coba-coba, spekulasi. Cara-cara seperti ini tidak tepat digunakan untuk pengembangan suatu profesi ataupun keilmuan tertentu. Suatu penelitian dikatakan baik (dalam arti ilmiah) jika mengikuti cara-cara yang telah ditentukan serta dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan bukan secara kebetulan.
Dalam keseharian sering ditemukan konsep-konsep yang kurang tepat dalam memaknai penelitian antara lain:


1.  Penelitian   bukan    sekedar   kegiatan   mengumpulkan   data   atau
informasi. Misalnya, seorang kepala sekolah bermaksud mengadakan
penelitian tentang latar belakang pendidikan orang tua siswa di
sekolahnya.    Kepala   sekolah   tersebut   belum    dapat   dikatakan
melakukan penelitian tetapi hanya sekedar mengumpulkan data atau
informasi saja. Pengumpulan data hanya merupakan salah satu bagian
kegiatan dari rangkaian proses penelitian. Langkah berikutnya yang
harus  dilakukan  kepala  sekolah  agar  kegiatan  tersebut  menjadi
penelitian adalah menganalisis data. Data yang telah diperolehnya
dapat digunakan misalnya untuk meneliti pengaruh latar belakang
pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
2.              Penelitian bukan hanya sekedar memindahkan fakta dari suatu tempat
ke tempat lain. Misalnya seorang pengawas telah berhasil mengum­
pulkan banyak data/infromasi tentang implementasi MBS di sekolah
binaanya dan menyusunnya dalam sebuah laporan. Kegiatan yang
dilakukan pengawas tersebut bukanlah suatu penelitian. Laporan yang
dihasilkannya juga bukan laporan penelitian. Kegiatan dimaksud akan
menjadi suatu penelitian ketika pengawas yang bersangkutan mela­
kukan analisis data lebih lanjut sehingga diperoleh suatu kesimpulan.
Misalnya: (1) faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan imple­
mentasi MBS; atau (2) faktor-faktor penghambat implementasi MBS
serta upaya mengatasinya.
B. Tujuan Umum Penelitian
Uraian di atas memperlihatkan bahwa penelitian adalah penyaluran
rasa  ingin  tahu   manusia  terhadap   sesuatu/masalah   dengan   melakukan
tindakan  tertentu   (misalnya  memeriksa,   menelaah,   mempelajari   dengan
cermat/sungguh-sungguh)    sehingga    diperoleh    suatu    temuan    berupa
kebenaran, jawaban, atau pengembangan ilmu pengetahuan. Terkait dengan
ilmu pengetahuan, dapat dikemukakan tiga tujuan umum penelitian yaitu:
1.   Tujuan Eksploratif, penelitian dilaksanakan untuk menemukan sesuatu
(ilmu pengetahuan) yang baru dalam bidang tertentu. Ilmu yang diperoleh
melalui penelitian betul-betul baru belum pernah diketahui sebelumnya.
Misalnya   suatu  penelitian  telah   menghasilkan   kriteria  kepemimpian


efektif dalam MBS. Contoh lainnya adalah penelitian yang menghasilkan suatu metode bam pembelajaran matematika yang menyenangkan siswa.
2.            Tujuan Verijikatif, penelitian dilaksanakan untuk menguji kebenaran dari
sesuatu (ilmu pengetahuan) yang telah ada. Data penelitian yang diperoleh
digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap infromasi atau
ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya, suatu penelitian dilakukan untuk
membuktian   adanya  pengaruh  kecerdasan   emosional   terhadap   gaya
kepemimpinan. Contoh lainnya adalah penelitian yang dilakukan untuk
menguji efektivitas metode pembelajaran yang telah dikembangkan di
luar negeri jika diterapkan di Indonesia.
3.            Tujuan Pengembangan, penelitian dilaksanakan untuk mengembangkan
sesuatu (ilmu pengetahuan) yang telah ada. Penelitian dilakukan untuk
mengembangkan atau memperdalam ilmu pegetahuan yang telah ada.
Misalnya penelitian tentang implementasi metode inquiry dalam pembela­
jaran IPS yang sebelumnya telah digunakan dalam pembelajaran IP A.
Contoh   lainnya   adalah   penelitian   tentang   sistem   penjaminan   mutu
(Quality    Assurannce)    dalam    organisasi/satuan    pendidikan    yang
sebelumnya telah berhasil diterpakan dalam organisasi bisnis/perusahaan.


BAB II
PENELITIAN BERDASARKAN FUNGSINYA
Berdasarkan fungsinya, penelitian dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif. Secara lebih luas, perbedaan antara ketiga jenis penelitian tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 3.1. Jenis Penelitian Berdasarkan Fungsinya


Dasar
Terapan
Evaluasi
Topik Penelitian
• Ilmu pengetahuan eksakta, perilaku, dan sosial.
• Bidang terapan: kedokteran, teknologi, pendidikan.
• Pelaksanaan berbagai kegiatan, program pada suatu lembaga
Tujuan Penelitian
• Untuk menguji teori, dalil, dan prinsip dasar • Menentukan hubungan empirik antara fenomena dan generalisasi analisis.
• Menguji kegunaan teori dalam bidang tertentu • Menjelaskan hubungan empirik dan generlisasi analitis diantara bidang tertentu
• Mengukur manfaat, sumbangan, dan kelayakan program atau kegiatan tertentu
Tingkat Generalisasi Hasil Penelitian
• Abstrak, umum
• Umum, terkait dengan bidang tertentu.
• Konkrit, spesifik dalam aspek tertentu • Diterapkan dalam praktek pada bidang tertentu
Kegunaan Penelitian
• Menambahkan pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar dan hukum tertentu • Mengembangkan metodologi dan cara-cara lebih lanjut.
• Menambahkan pengetahuan yang didasarkan penelitian pada bidang tertentu • Mengembangkan penelitian dan metodologi dalam bidang tertentu
• Menambahkan pengetahuan yang didasarkan penelitian tentang praktek tertentu • Mengembangkan penelitian dan metodologi tentang praktek tertentu • Landasan dalam pembuatan keputusan dalam kegiatan/praktek tertentu
Sumber : Diadaptasi dari McMillan dan Schumacher (2001)


Ilmu-ilmu dasar baik dalam bidang sosial maupun eksakta dikembangkan melalui penelitian dasar, sedangkan penelitian terapan menghasilkan ilmu-ilmu terapan (kedokteran, teknologi, pendidikan). Penelitian terapan dilakukan dengan memanfaatkan ilmu dasar. Penelitian dasar {basic research) adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk pengembangan teori-teori ilmiah atau prinsip-prinsip yang mendasar dan umum dari bidang ilmu yang bersangkutan. Penelitian terapan {applied research) ditujukan untuk menemukan teori-teori atau prinsip-prinsip yang mendasar dan umum dari masalah yang dikaji sehingga dapat memecahkan/mengatasi suatu masalah serta masalah-masalah lain yang tergolong dalam tipe yang sama. Penelitian evaluatif {evaluation research) dimaksudkan untuk menilai suatu program atau kegiatan tertentu pada suatu lembaga. Penelitian evaluatif dapat digunakan untuk menilai manfaat, kegunaan, atau kelayakan suatu kegiatan/program tertentu. Pembahasan berikut ini ditekankan pada gambaran umum yang dapat membedakan ketiga jenis penelitian. Uraian mengenai prosedur penelitian dibahas secara terintegrasi dalam Bab III tentang metodologi penelitian.
A. Penelitian Dasar
Penelitian dasar {basic research) disebut juga penelitian murni {pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori baru. Peneliti yang melakukan penelitian dasar memiliki tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan pemanfaatan secara langsung dari hasil penelitian tersebut. Penelitian dasar justru memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan serta pengujian teori-teori yang akan mendasari penelitian terapan.
Penelitian dasar lebih diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan, dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial. Hasil penelitian dasar mungkin belum dapat dimanfaatkan secara langsung akan tetapi sangat berguna untuk kehidupan yang lebih baik. Tujuan penelitian dasar adalah untuk menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar, hukum-hukum


ilmiah,    serta   untuk   meningkatkan   pencarian   dan   metodologi   ilmiah (Sukmadinata, 2005).
Tingkat generalisasi hasil penelitian dasar bersifat abstrak dan umum serta berlaku secara universal. Penelitian dasar tidak diarahkan untuk memecahkan masalah praktis akan tetapi prinsip-prinsip atau teori yang dihasilkannya dapat mendasari pemecahan masalah praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis. Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan adalah penelitian dalam bidang psikologi, misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perikalu manusia. Hasil penelitian tersebut sering digunakan sebagai landasan dalam pengembangan sikap untuk merubah perilaku melalui proses pembelajaran/pendidikan.
B. Penelitian Terapan
Penelitian terapan atau applied research dilakukan berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata. Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi tentang masalah-masalah tertentu. Tujuan utama penelitian terapan adalah pemecahan masalah sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu atau kelompok maupun untuk keperluan industri atau politik dan bukan untuk wawasan keilmuan semata (Sukardi, 2003). Dengan kata lain penelitian terapan adalah satu jenis penelitian yang hasilnya dapat secara langsung diterapkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui hubungan empiris dan analisis dalam bidang-bidang tertentu. Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan bersifat umum, bukan rekomendasi berupa tindakan langsung. Setelah sejumlah studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu, pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berpikir dan persepsi para praktisi. Penelitian terapan lebih difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang-bidang tertentu bukan pengetahuan yang bersifat universal misalnya bidang kedokteran, pendidikan, atau teknologi. Penelitian terapan


mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktek bam serta pengembangan metodologi untuk kepentingan praktis.
Penelitian terapan dapat pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan tindakan aplikatif yang dapat dipraktekan bagi pemecahan masalah tertentu. Hasil penelitian terapan tidak perlu sebagai suatu penemuan baru tetapi meupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada (Nazir, 1985). Akhir-akhir ini, penelitian terapan telah berkembang dalam bentuk yang lebih khusus yaitu penelitian kebijakan (Majchrzak, 1984). Penelitian kebijakan berawal dari permasalahan praktik dengan maksud memecahkan masalah-masalah sosial. Hasil penelitian biasanya dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.
C. Penelitian Evaluatif
Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian terapan namun tujuannya dapat dibedakan dari penelitian terapan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan suatu program, produk atau kegiatan tertentu (Danim, 2000). Penelitian ini diarahkan untuk menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan dan kelayakan suatu program kegiatan dari suatu unit/ lembaga tertentu. Penelitian evaluatif dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan lebih lanjut, serta membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan (Sukmadinata, 2005). Penelitian evaluatif dapat dirancang untuk menjawab pertanyaan, menguji, atau membuktikan hipotesis. Makna evaluatif menunjuk pada kata kerja yang menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah evaluasi. Penelitian evaluatif menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek, yang biasanya merupakan pelaksanaan dan rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian evaluatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi, yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan evaluasi. Melakukan evaluasi berarti menunjukkan kehati-hatian karena ingin mengetahui apakah implementasi program yang telah direncanakan sudah berjalan  dengan  benar  dan  sekaligus  memberikan  hasil   sesuai   dengan


harapan. Jika belum bagian mana yang belum sesuai serta apa yang menjadi penyebabnya.
Penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama yaitu pengukuran atau pengambilan data dan membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang digunakan. Berdasarkan hasil perbandingan ini maka akan didapatkan kesimpulan bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu layak atau tidak, relevan atau tidak, efisien dan efektif atau tidak. Atas dasar kegiatan tersebut, penelitian evaluatif dimaksudkan untuk membantu perencana dalam pelaksanaan program, penyempurnaan dan perubahan program, penentuan keputusan atas keberlanjutan atau penghentian program, menemukan fakta-fakta dukungan dan penolakan terhadap program, memberikan sumbangan dalam pemahaman suatu program serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkup penelitian evaluatif dalam bidang pendidikan misalnya evaluasi kurikulum, program pendidikan, pembelajaran, pendidik, siswa, organisasi dan manajemen.
Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi adalah adanya standar, tolok ukur atau kriteria. Mengevaluasi adalah melaksanakan upaya untuk mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, kemudian dibandingkan dengan kriteria agar dapat diketahui kesenjangan antara kondisi nyata dengan kriteria (kondisi yang diharapkan). Penelitian evaluatif bukan sekedar melakukan evaluasi pada umumnya. Penelitian evaluatif merupakan kegiatan evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku bagi sebuah penelitian, yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan metodologi secara benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan makna tersebut, penelitian evaluatif harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Arikunto, 2006):
1.  Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang
berlaku bagi penelitian ilmiah pada umumnya.
2.              Dalam    melaksanakan    evaluasi,    peneliti    berpikir    sistemik    yaitu
memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri
dan beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan antara satu sama
lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dan objek yang dievaluasi.


3.              Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dan objek yang dievaluasi,
perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor
penentu bagi keberhasilan program.
4.              Menggunakan standar, kriteria, dan tolok ukur yang jelas untuk setiap
indikator yang dievaluasi agar dapat diketahui dengan cermat keunggulan
dan kelemahan program.
5.              Agar informasi  yang  diperoleh  dapat menggambarkan kondisi  nyata
secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum
terlaksana, perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan
identifikasi sub komponen, dan sampai pada indikator dan program yang
dievaluasi.
6.              Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci
dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.
7.              Kesimpulan    atau    hasil    penelitian    digunakan    sebagai    masukan/
rekomendasi bagi kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan.
Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti
harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria,
atau tolak ukur.


BAB III
PENDEKATAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Berdasarkan pendekatan yang mendasarinya, secara garis besar dapat dibedakan dua macam penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Kedua pendekatan tersebut memiliki asumsi, tujuan, karakteristik, dan prosedur yang berbeda. Namun demikian, permasalahannya tidak terletak pada keunggulan atau kelemahan setiap pendekatan, tetapi sejauh mana peneliti mampu bersikap responsif dengan mengembangkan desain yang tepat untuk penelitiannya. Pembahasan berikut ini tidak bermaksud mempermasalahkan kebenaran atau kekurangan kedua pendekatan penelitian melainkan untuk menguraikan perbedaan-perbedaan mendasar antara penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan penekanan pada penelitian kualitatif (mengingat pendekatan penelitian kualitatif jarang dilakukan), serta kemungkinan untuk menggabungkan kedua pendekatan penelitian tersebut.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif telah lama mendominasi tidak hanya pada penelitian ilmu-ilmu alam tetapi juga ilmu-ilmu sosial. Prinsip-prinsip teoretis penelitian kuantitatif yang salah satunya adalah mengkonstruksikan pengetahuan pada prosedur eksplisit, eksak, formal dalam mendefinisikan konsep serta mengukur konsep-konsep dan variabel (Poerwandari, 1998). Namun, terdapat beberapa peneliti sosial yang melakukan penelitian kualitatif berpendapat bahwa fenomena-fenomena sosial sangat unik sehingga sulit dibakukan berdasarkan pengukuran tertentu bahkan dapat menghilangkan makna yang sesungguhnya.
A. Penelitian Kuantitatif
1. Hakikat Penelitian Kuantitatif
Beberapa penjelasan sebelumnya mengemukakan bahwa penelitian ilmiah adalah proses yang sistematis. Maknanya penelitian dilakukan dengan urutan dan prosedur tertentu yang bersifat tetap dan para peneliti mengikuti cara seperti itu dalam penelitiannya. Prosedur penelitian merupakan pedoman peneliti untuk melakukan penelitian dengan cara yang benar. Peneliti tidak dapat melakukan penelitian hanya dengan cara mengumpulkan data dan


menganalisisnya, tetapi penelitian hams berawal dari penemuan permasalahan dan berlanjut kepada tahap-tahap selanjutnya. Proses penelitian ilmiah secara umum harus memenuhi tahapan perumusan masalah, telaah teoretis, verifikasi data, dan kesimpulan. Tahap-tahap ini berlaku untuk pendekatan kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif merupakan salah satu upaya pencarian ilmiah {scientific inquiry) yang didasari oleh filsafat positivisme logikal {logical positivism) yang beroperasi dengan aturan-aturan yang ketat mengenai logika, kebenaran, hukum-hukum, dan prediksi (Watson, dalam Danim 2002). Fokus penelitian kuantitatif diidentifikasikan sebagai proses kerja yang berlangsung secara ringkas, terbatas dan memilah-milah permasalahan menjadi bagian yang dapat diukur atau dinyatakan dalam angka-angka. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjelaskan, menguji hubungan antar variabel, menentukan kasualitas dari variabel, menguji teori dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif (untuk meramalkan suatu gejala).
Penelitian kuantitatif menggunakan instrumen (alat pengumpul data) yang menghasilkan data numerikal (angka). Analisis data dilakukan menggunakan teknik statistik untuk mereduksi dan mengelompokan data, menentukan hubungan serta mengidentifikasikan perbedaan antar kelompok data. Kontrol, instrumen, dan analisis statistik digunakan untuk menghasilkan temuan-temuan penelitian secara akurat. Dengan demikian kesimpulan hasil uji hipotesis yang diperoleh melalui penelitian kuantitatif dapat diberlakukan secara umum.
Pendekatan kuantitatif seperti penjelasan di atas mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka.
Terdapat   sejumlah   situasi   yang   menunjukkan   kapan   sebaiknya penelitian kuantitatif dipilih sebagai pendekatan antara lain: 1.   Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah penyimpangan yang terjadi  antara harapan dengan kenyataan,


aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan impelementasi atau tantangan dengan kemampuan. Masalah ini hams ditunjukkan dengan data, baik hasil pangamatan sendiri maupun pencermatan dokumen. Misalnya penelitian kuantitatif untuk menguji efektivitas pembelajaran dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, maka data prestasi belajar siswa sebagai masalah hams ditunjukkan.
2.              Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi.
Penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan infomasi yang
luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka penelitian
dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Misalnya
penelitian tentang disiplin kerja gum di Kabupaten Bandung. Peneliti
dapat mengambil sampel yang representatif, tidak berarti hams semua
gum di kabupaten Bandung menjadi sumber data penelitian.
3.              Bila ingin diketahui sejauh mana pengamh perlakuan/ treatment terhadap
subyek tertentu. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok
digunakan. Misalnya penelitian untuk mengetahui pengamh penggunaan
media pembelajaran audio-visual terhadap prestasi belajar siswa.
4.              Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian
dapat berbentuk dugaan mengenai hubungan antar variabel (hipotesis
asosiatif) ataupun perbedaan skor variabel antar kelompok (hipotesis
komparatif). Misalnya peneliti ingin mengetahui perbedaan antara disiplin
kerja gum laki-laki dengan gum perempuan. Hipotesis komparatif yang
diuji adalah: "Terdapat perbedaan disiplin kerja gum laki-laki dengan
gum   perempuan".   Contoh   lain   misalnya   peneliti   ingin   mengetahui
hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja gum.  Hipotesis asosiatif
yang diuji  dalam  penelitian  ini  adalah:  "Terdapat hubungan  antara
motivasi kerja dengan kinerja gum".
5.              Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena
yang empiris dan dapat diukur. Misalnya ingin mengetahui IQ gum pada
sekolah tertentu, maka dilakukan pengukuran melalui tes IQ terhadap
gum-gum pada sekolah yang bersangkutan.
6.              Bila peneliti  ingin menguji  terhadap  adanya  suatu keraguan tentang
kebenaran pengetahuan, teori, dan produk atau kegiatan tertentu. Misalnya
peneliti    ingin    mengetahun    variabel    yang    lebih    efektif   apakah


pembelajaran menggunakan metode diskusi atau penugasan. Dalam hal ini, peneliti hams mengukur hasil belajar siswa yang menggunakan metode diskusi dan hasil belajar siswa yang menggunakan metode penugasan. Pada tahap selanjutnya hasil pengukuran tersebut dibandingkan.
2. Prosedur Penelitian Kuantitatif
Langkah-langkah penelitian kuantitatif adalah operasionalisasi metode ilmiah dengan memperhatikan unsur-unsur keilmuan. Penelitian kuantitatif sebagai kegiatan ilmiah berawal dari masalah, merujuk teori, mengemukakan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Penelitian kuantitatif berawal dari adanya masalah yang dapat digali dari sumber empiris dan teoretis, sebagai suatu aktivitas penelitian pendahuluan (prariset). Agar masalah ditemukan dengan baik memerlukan fakta-fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang diperoleh dari mengkaji berbagai literatur relevan. Penelitian dilakukan secara sistematis, empiris, dan kritis mengenai fenomena-fenomena yang dipandu oleh teori serta hipotesis sebagaimana ditunjukkan pada gambar 3.1.
Kegiatan penelitian dimulai dengan mengidentifikasikan permasa-lahan atau isu-isu yang penting, aktual dan menarik. Dan yang paling penting adalah manfaat yang dihasilkan bila masalah itu diteliti. Masalah dapat digali dari berbagai sumber empiris ataupun teoretis sebagai aktivitas penelitian pendahuluan (pra-penelitian). Agar masalah ditemukan dengan baik diperlukan fakta-fakta empiris diiringi penguasaan teori yang diperoleh melalui pengkajian berbagai literatur relevan. Pada tahap selanjutnya, penelitian melihat tujuan sebagai suatu permasalahan. Masalah yang telah ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah. Pada umumnya rumusan masalah penelitian kuantitatif disusun dalam bentuk pertanyaan. Rumusan masalah merupakan penentuan faktor-faktor atau aspek-aspek yang terkait dengan lingkup kajian penelitian.
Proses (Siklus) Kegiatan Penelitian
Dalam praktiknya faktor-faktor serta aspek-aspek yang berkaitan dengan kajian permasalahan sangat banyak dan kompleks. Oleh karena itu diperlukan pembatasan pada faktor atau aspek yang dominan saja. Penelitian membagi permasalahan menjadi sub-sub permasalahan yang dapat dikelola dalam arti layak dan terjangkau untuk diteliti. Setiap sub permasalahan dicari kemungkinan jawabannya secara spesifik dalam bentuk hipotesis yang sesuai. Dalam hal inilah diperlukan studi kepustakaan yaitu kegiatan untuk mengkaji


teori-teori yang mendasari penelitian. Dalam kegiatan ini juga dikaji hal-hal empiris yang bersumber dari penelitian-penelitian terdahulu. Penelitian menahan sementara hipotesis atau pertanyaan sampai semua data terkumpul dan diinterpretasikan.
Pada tahap selanjutnya, penelitian diarahkan untuk mencari data didasari oleh rumusan masalah dan hipotesis yang dikemukakan sebelumnya. Dalam hal ini diperlukan desain penelitian yang berisi tahapan penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data (populasi dan sampel), serta alasan mengapa menggunakan metode tersebut. Sebelum kegiatan pengumpulan data dilakukan, terlebih dahulu hams ditetapkan teknik penyusunan dan pengujian instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data. Data yang diperoleh kemudian di analisis menggunakan teknik statistik. Hasil analisis data merupakan temuan yang belum diberi makna.
Pemaknaan hasil analisis data dilakukan melalui interpretasi yang mengarah pada upaya mengatasi masalah atau menjawab pertanyaan penelitian. Dalam tahapan ini dikemukakan tentang penerimaan atau penolakan hipotesis. Interpretasi dibuat dengan melihat hubungan antara temuan yang satu dengan temuan lainnya. Kesimpulan merupakan generalisasi hasil interpretasi. Terhadap kesimpulan yang diperoleh maka diciptakanlah implikasi dan rekomendasi serta saran dalam pemanfaatan hasil penelitian.
B. Pendekatan Penelitian Kualitatif 1.Hakikat Penelitian Kualitatif
Membuat batasan atau definisi tentang penelitian kualitatif memang tidak mudah, mengingat banyaknya perbedaan pandangan yang ada. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa dalam penelitian terdapat dua pende­katan yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpre­tasikan oleh setiap individu (Sukmadinata, 2005). Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial


mereka (Danim, 2002). Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).
Pembahasan sebelumnya telah menjelaskan penelitian dengan pende-katan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dimulai dengan proses berpikir deduktif untuk mendapatkan hipotesis, kemudian melakukan verifikasi data empiris, dan menguji hipotesis berdasarkan data empiris, serta menarik kesimpulan atas dasar hasil pengujian hipotesis. Untuk itu, peranan statistika sangat diperlukan dalam proses analisis data. Penelitian pendidikan akhir-akhir ini sudah mulai memusatkan perhatian kepada konsep-konsep yang timbul dari data. Dengan demikian perhatian bukan kepada angka-angka yang diperoleh melalui pengukuran empiris, namun pada konsep-konsep yang terdapat di dalamnya. Suatu peristiwa empiris dapat menghasilkan suatu konsep. Konsep-konsep yang timbul dari data empiris dicari hubungannya untuk membentuk teori.
Atas dasar uraian di atas, dapat dikemukakan lima ciri pokok sebagai karakteristik penelitian kualitatif yaitu:
1.  Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
2.              Memiliki sifat deskriptif analitik
3.              Tekanan pada proses bukan hasil
4.              Bersifat induktif
5.              Mengutamakan makna
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung. Misalnya peneliti ingin mengetahui peran kepala


sekolah dalam pembinaan gum. Peneliti hams mendatangi suatu sekolah kemudian mengali informasi yang terkait dengan peran kepala sekolah dalam pembinaan gum baik itu dari kepala sekolah, gum, maupun dokumen sekolah.
Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis doku­men, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data bempa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. Misalnya ketika peneliti ingin mengetahui peran kepala sekolah dalam pembinaan gum, berdasarkan data/informasi yang ada peneliti hams mampu menguraikan tujuan kepala sekolah dalam pembinaan gum, langkah-langkah yang dilakukan kepala sekolah dalam pembinaan gum, serta bagaimana respon gum terhadap pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah.
Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan


atau hasil penelitian tersebut. Misalnya ketika meneliti peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti tidak mengukur frekuensi pembinaan yang dilakukan akan tetapi mengamati untuk apa pembinaan dilakukan serta bagaimana cara pembinaan dilaksanakan.
Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan. Misalnya ketika meneliti peran kepala sekolah dalam membina guru, peneliti harus berusaha menemukan prinsip dan konsep-konsep atas dasar fakta. Peneliti tidak berupaya menerapkan teori/konsep yang terkait dengan pembinaan, akan tetapi berusaha menemukan konsep berdasarkan fakta dari lapangan.
Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan tepat.
Berdasarkan ciri di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik


maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa hams menggunakan angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan pendekatan kuantitatif Berikut ini dikemukakan kapan sebaiknya pendekatan kualitatif digunakan, antara lain:
1.  Bila masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin
malah   masih   gelap.   Kondisi   semacam   ini   cocok   diteliti   dengan
pendekatan    kualitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung masuk
pada situasi, melakukan eksplorasi, sehingga masalah ditemukan dengan
jelas.
2.            Bila peneliti ingin memahami makna di balik data yang tampak. Gejala
sosial sering tidak dapat dipahami berdasarkan apa yang diucapkan dan
dilakukan orang. Misalnya persepsi gum tentang kepemimpinan kepala
sekolah akan berbeda dengan persepsi kepala sekolah. Data untuk mencari
makna kepemimpinan kepala sekolah tersebut hanya cocok diteliti dengan
metode kualitatif misalnya melalui wawancara mendalam, observasi, dan
juga pencermatan dokumen.
3.            Bila peneliti  ingin  memahami  interaksi  sosial.  Interaksi  sosial  yang
kompleks   hanya   dapat   diurai   kalau   peneliti   melakukan   penelitian
kualitatif dengan cara berperan serta, wawancara mendalam terhadap
interaksi sosial tersebut. Misalnya pemahaman terhadap kepemimpinan
kepala sekolah hanya dapat dilakukan melalui kajian mendalam bukan
hanya pengukuran  sepintas.  Dengan  demikian  dapat ditemukan pola
hubungan yang jelas sehingga dapat ditemukan hipotesis yang berupa
hubungan antar gejala.  
Bila hipotesis terbukti, maka akan menjadi tesis
ataumenjadi teori.
4.            Bila peneliti ingin memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit
dipastikan kebenarannya.  Melalui berbagai teknik pengumpulan data
kualitatif, kepastian data akan lebih terjainin. Melalui pendekatan kuali­
tatif data yang diperoleh diuji kredibilitasnya, penelitian berakhir setelah


data itu jenuh sehingga kepastian data dapat diperoleh. Misalnya untuk mencari gaya kepemimpinan seperti apa yang sebaiknya diterapkan kepala sekolah dalam membina gum, sebelum ditemukan gaya yang tepat maka penelitian belum dinyatakan selesai.
5. Bila ingin meneliti tentang sejarah atau perkembangan. Sejarah atau perkembangan kehidupan seseorang atau kelompok orang dapat dilacak melalui pendekatan kualitatif. Misalnya sejarah perkembangan sekolah sehingga sekolah tersebut menjadi sekolah favorit dalam padangan masyarakat dan orang tua siswa.
Atas  dasar  penggunaanya,   dapat  dikemukakan  bahwa  penelitian
kualitatif dalam bidang pendidikan bertujuan untuk:
1.  Mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang
terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukenali
kekurangan dan kelemahan pendidikan sehingga dapat ditentukan upaya
penyempurnaannya.
2.             Menganalisis   dan   menafsirkan   suatu   fakta,   gejala   dan   peristiwa
pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks
ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami.
3.             Menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan
berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk
kepentingan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.
Bidang kajian penelitian kualitatif dalam pendidikan antara lain berkaitan dengan proses pengajaran, bimbingan, pengelolaan/manajemen kelas, kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, penilaian pendidikan, hubungan sekolah dan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru, dan Iain-lain.
2. Prosedur Penelitian Kualitatif
Prosedur penelitian kualitatif memiliki perbedaan dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif biasanya didesain secara longgar, tidak ketat, sehingga dalam pelaksanaan penelitian berpeluang mengalami perubahan dari apa yang telah direncanakan. Hal itu dapat terjadi bila perencanaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijumpai di lapangan. Meski demikian, kerja penelitian mestilah merancang langkah-langkah kegiatan penelitian. Paling


tidak terdapat tiga tahap utama dalam penelitian kualitatif yaitu (Sugiyono, 2007):
1.  Tahap deskripsi atau tahap orientasi. Pada tahap ini, peneliti mendeskrip-
sikan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Peneliti bam mendata
sepintas tentang informasi yang diperolehnya.
2.              Tahap reduksi. Pada tahap ini, peneliti mereduksi segala informasi yang
diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu.
3.              Tahap seleksi. Pada tahap ini, peneliti menguraikan fokus yang telah
ditetapkan  menjadi  lebih  rinci  kemudian  melakukan  analisis  secara
mendalam   tentang   fokus   masalah.    Hasilnya   adalah   tema   yang
dikonstruksi berdasarkan data yang diperoleh menjadi suatu pengetahuan,
hipotesis, bahkan teori baru.
Secara spesifik, ketiga tahap di atas dapat djabarkan dalam tujuh langkah penelitian kualitatif yaitu: identifikasi masalah, pembatasan masalah, penetapan fokus masalah, pelaksanaan penelitian, pengolahan dan pemaknaan data, pemunculan teori, dan pelaporan hasil penelitian (Sudjana, 2001). Keterkaitan antara tiga tahapan proses dan tujuh langkah penelitian kualitatif ditunjukkan pada gambar 3.2 dan uraian berikut.
Langkah pertama: mengidentifikasi masalah. Suatu masalah merupakan suatu keadaan yang menyebabkan seseorang bertanya-tanya, berpikir, dan berupaya menemukan kebenaran yang ada. Fenomena masalah tersebut terjadi karena adanya sesuatu yang diharapkan, dipikirkan, dirasakan tidak sama dengan kenyataan, sehingga timbul "pertanyaan" yang menantang untuk ditemukan "jawabannya". Atas dasar prinsip masalah tersebut, dalam mengidentifikasi masalah dapat muncul pertanyaan yang terkait dengan apakah, mengapa, dan bagaimana. Dari pertanyaan yang muncul tergambar substansi masalah yang terkait dengan pendekatan atau jenis penelitian tertentu. Dengan kata lain, jenis penelitian apa yang harus digunakan peneliti bergantung pada masalah yang ada. Di dalam penelitian sebaiknya seorang peneliti melakukan identifikasi masalah dengan mengungkapkan semua permasalahan yang terkait dengan bidang yang akan ditelitinya.


Tahapan dan Langkah-langkah Penelitian Kualitatif
Langkah kedua: pembatasan masalah yang dalam penelitian kualitatif sering disebut fokus penelitian. Sejumlah masalah yang diidentifikasi dikaji dan dipertimbangkan apakah perlu direduksi atau tidak. Pertimbangannya antara lain atas dasar keluasan lingkup kajian. Kajian yang terlalu luas memungkinkan adanya hambatan dan tantangan yang lebih banyak. Kajian yang terlalu spesifik memerlukan kemampuan khusus untuk dapat melakukan kajian secara mendalam. Pembatasan masalah merupakan langkah penting dalam menentukan kegiatan penelitian. Meski demikian, pembatasan masalah


penelitian kualitatif tidaklah bersifat kaku/ketat. Pembatasan masalah dapat dilakukan dengan mengajukan sejumlah pertanyaan antara lain:
1.  Dapatkah masalah tersebut dikembangkan untuk diteliti?
2.             Adakah data atau informasi yang dapat dikumpulkan untuk menemukan
jawaban atas masalah yang dipilih?
3.             Apakah masalah dan pemecahannya cukup bermanfaat?
4.             Apakah masalah tersebut bam dan aktual?
5.             Sudah adakah orang yang melakukan pemecahan masalah tersebut?
6.             Apakah  masalah tersebut layak  diteliti   dengan  melihat kemampuan
peneliti, akses memperoleh informasi, serta ketersediaan dana dan waktu?
Langkah ketiga: penetapan fokus penelitian. Penetapan fokus berarti membatasi kajian. Dengan menetapkan fokus masalah berarti peneliti telah melakukan pembatasan bidang kajian, yang berarti pula membatasi bidang temuan. Menetapkan fokus berarti menetapkan kriteria data penelitian. Dengan pedoman fokus masalah seorang peneliti dapat menetapkan data yang hams dicari. Data yang dikumpulkan hanyalah data yang relevan dengan fokus penelitian. Peneliti dapat mereduksi data yang tidak relevan dengan fokus penelitian. Sebagai catatan bahwa dalam penelitian kualitatif dapat terjadi penetapan fokus penelitian bam dilakukan dan dipastikan pada saat peneliti berada di lapangan. Hal itu dapat terjadi bila fokus masalah yang telah dimmuskan secara baik, namun setelah di lapangan tidak mungkin dilakukan penelitian sehingga diubah, diganti, disempurnakan atau dialihkan. Peneliti memiliki peluang untuk menyempurnakan, mengubah, atau menambah fokus penelitian.
Langkah keempat: pengumpulan data. Pada tahap ini yang perlu dipenuhi antara lain rancangan atau skenario penelitian, memilih dan menetapkan setting (latar) penelitian, mengurus perijinan, memilih dan menetapkan informan (sumber data), menetapkan strategi dan teknik pengumpulan data, serta menyiapkan sarana dan prasarana penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menemui sumber data. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengumpulan data adalah menciptakan hubungan yang baik antara peneliti dengan sumber data. Hal ini terkait dengan teknik pengumpulan data yang akan digunakan misalnya observasi, wawancara atau pengamatan.


Langkah kelima: pengolahan dan pemaknaan data. Pada penelitian yang lain pada umumnya pengolahan data dan pemaknaan data dilakukan setelah data terkumpul atau kegiatan pengumpulan di lapangan dinyatakan selesai. Analisis data kualitatif yang meliputi pengolahan dan pemaknaan data dimulai sejak peneliti memasuki lapangan. Selanjutnya, hal yang sama dilakukan secara kontinyu pada saat pengumpulan sampai akhir kegiatan pengumpulan data secara berulang sampai data jenuh (tidak diperoleh lagi informasi bam). Dalam hal ini, hasil analisis dan pemaknaan data akan berkembang, berubah, dan bergeser sesuai perkembangan dan perubahan data yang ditemukan di lapangan.
Langkah keenam: pemunculan teori. Peran teori dalam penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif teori tidak dimanfaatkan untuk membangun kerangka pikir dalam menyusun hipotesis. Penelitian kualitatif bekerja secara induktif dalam rangka menemukan hipotesis. Teori berfungsi sebagai alat dan berfungsi sebagai fungsi tujuan. Teori sebagai alat dimaksudkan bahwa dengan teori yang ada peneliti dapat melengkapi dan menyediakan keterangan terhadap fenomena yang ditemui. Teori sebagai tujuan mengandung makna bahwa temuan penelitian dapat dijadikan suatu teori baru.
Langkah ketujuh: pelaporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian merupakan bentuk pertanggungjawaban peneliti setelah melakukan kegiatan pengumpulan data penelitian dinyatakan selesai. Dalam konteks yang seperti ini, pelaporan hasil penelitian secara tertulis memiliki nilai guna setidaknya dalam empat hal, yaitu:
1.  Sebagai kelengkapan proses penelitian yang harus dipenuhi oleh para
peneliti dalam setiap kegiatan penelitian
2.              Sebagai hasil nyata peneliti dalam merealisasi kajian ilmiah
3.              Sebagai dokumen autentik suatu kegiatan ilmiah yang dapat dikomuni-
kasikan kepada masyarakat ataupun sesama peneliti
4.              Sebagai hasil karya nyata yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan
bergantung pada kepentingan peneliti (Sukardi, 2003).
Berdasarkan uraian tentang hakikat dan prosedur penelitian kualitatif, penelitian kualitatif mempunyai makna tersendiri untuk kepentingan bidang


pendidikan. Pentingnya penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan antara lain:
1.  Pendidikan sebagai proses sosialisasi hakikatnya adalah interaksi manusia
dengan lingkungan yang membentuknya melalui proses belajar dalam
konteks lingkungan yang berubah-ubah.
2.            Pendidikan senantiasa melibatkan komponen manusia yakni pendidik dan
tenaga kependidikan, siswa, kurikulum, lingkungan, waktu, serta sarana
dan prasarana pendidikan.
Setiap komponen saling berinteraksi dalam
satu proses pendidikan/pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
3.            Pendidikan sebagai suatu sistem tidak hanya berorientasi pada hasil tetapi
juga berorientasi pada proses agar memperoleh hasil optimal.
4.            Pendidikan dalam arti luas, terjadi pada setiap manusia dan berlangsung
sepanjang hayat, dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan
masyarakat, secara alami.
5.            Tekanan   utama   pendidikan   adalah   pembinaan   dan   pengembangan
manusia mencakup aspek intelektual, moral, sosial dalam satu kesatuan
utuh,   serasi,   selaras   dan   seimbang.   Pembinaan  dan  pengembangan
tersebut  melalui  proses  belajar  agar  diperoleh  perubahan-perubahan
perilaku menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Proses dan hasil pendidikan tidak saja diukur secara numerik/angka dan bilangan dalam bentuk indeks-indeks prestasi atau indeks-indeks lainnya secara kuantitatif dan statistik. Lebih dari itu perlu pengkajian mendalam berkenaan dengan kualitas proses, efisiensi dan efektivitas, serta daya guna terhadap perubahan perilaku individu khususnya anak didik dan tenaga kependidikan. Data kualitatif dalam bidang pendidikan sangat bermanfaat untuk menemukan hakikat dan makna yang terkandung dalam proses pendidikan.
Bagaimana proses pendidikan itu berlangsung, bagaimana perubahan terjadi dalam proses tersebut, bagaimana interaksi guru-siswa dan siswa-siswa dalam pembelajaran, bagaimana sumber belajar dioptimalkan penggunaannya, bagaimana guru menangani kesulitan belajar siswa, dan pertanyaan lainnya memerlukan data kualitatif dalam menjelaskannya. Pengukuran secara kuantitatif tersebut seringkali menghilangkan makna yang sebenarnya, lebih dari data yang diperoleh secara kuantitatif berdimensi


tunggal, padahal dalam kenyataannya suatu proses yang terjadi berkaitan erat dengan berbagai dimensi yang muncul dalam kondisi alamiahnya.
C. Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal penting agar dapat dicapai hasil yang akurat sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan. Pendekatan yang mana sebaiknya digunakan apakah pendekatan kualitatif atau kuantitatif? Pembahasan berikut memberikan ulasan singkat mengenai perbedaan kedua pendekatan tersebut sebagai kesimpulan uraian yang dikemukakan sebelumnya.
Pertama: pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif lebih mementingkan proses dibandingkan hasil. Oleh karena itu urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian. Penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang akan menentukan tahapan berikutnya seperti teknik analisa dan teknik statistik yang akan digunakan. Pendekatan kuantitatif lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik.
Kedua: jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsirkan berdasarkan sudut pandang yang bersangkutan dengan cara mencari makna dari gejala yang sedang diteliti. Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata atau terukur.
Kefiga: tujuan utama penelitian kualitatif adalah mengembangkan pengertian, konsep-konsep yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai "grounded theory research". Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, mengungkap fakta, menunjukkan


hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistik, serta menaksir dan meramalkan hasilnya.
Keempat: melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah/berkembang sesuai dengan situasi lapangan. Desain hanya digunakan sebagai asumsi dalam melakukan penelitan. Oleh karena itu, desain hams fleksibel dan terbuka. Lain halnya dengan desain penelitian kuantitatif. Desainnya terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin. Desain penelitian kuantitatif bersifat spesifik dan detil karena merupakan suatu rancangan yang akan dilaksanakan sebenarnya. Jika desainnya salah, hasilnya menyesatkan.
Kelima: pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, dan catatan-catatan lapangan saat penelitian dilakukan. Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif/angka-angka.
Keenam: sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sampel didasarkan pada kualitasnya bukan jumlah. Ketepatan dalam memilih sampel merupakan salah satu kunci keberhasilan penelitian kualitatif. Sampel dipandang sebagai sampel teoretis dan tidak representatif. Pada pendekatan kuantitatif, jumlah sampel besar karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin besar sampel akan merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sampel yang besar maka stratafikasi sampel sangat diperlukan.
Ketujuh: Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan menggunakan teknik observasi terlibat langsung, seperti dilakukan oleh peneliti bidang antropologi dimana peneliti terlibat langsung dengan yang diteliti. Jika pendekatan kuantitatif diterapkan maka teknik yang digunakan berbentuk observasi terstruktur, survei menggunakan kuesioner, dan eksperimen. Dalam melakukan interview biasanya diberlakukan interview terstruktur untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan untuk menguji hipotesis.


Kedelapan: dalam kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun antara peneliti dengan sumber data didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sampelnya itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian. Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan tersebut seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat obyektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya berjangka waktu pendek.
Kesembilan: Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep untuk membangunan teori baru. Analisa data penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris terhadap teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik.
Berdasarkan uraian di atas, kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabilitasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian terkontaminasi oleh subyektifitas peneliti. Pendekatan kualitatif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variabel yang berpengaruh terhadap proses penelitian baik langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sampel, pengambilan data dan juga penentuan alat analisisnya.
D. Perpaduan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian
Penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif belum banyak dilakukan. Namun, perkembangan ilmu-ilmu sosial khususnya pendidikan telah membuka kesempatan untuk memunculkan perrpaduan antara keduanya. Strauss & Corbin (1990) menyatakan bahwa suatu penelitian dapat saja memakai metodologi yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.   Salah  satu jenis  penelitian yang memerlukan


penggabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif adalah penelitian-peneli-tiankebijakan(Brannen, 1997).
Brannen (1997) mencetuskan tiga acuan pokok dalam memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Ketiga acuan itu adalah:
1.    Penelitian kuantitatif sebagai fasilisator penelitian kualitatif] maksud
dari acuan ini adalah:
a.    Penelitian kuantitatif memberikan data latar belakang yang terukur
untuk mengaitkannya dengan studi-studi skala kecil. Ini seringkali
diambil dari data-data statistik atau sensus.
b.    Survei kuantitatif dapat memberikan landasan bagi data kasus dari
kelompok-kelompok tertentu yang akan melandasi studi intensif
dalam penelitian kualitatif.
2.             Penelitian kualitatif sebagai fasilitator penelitian kuantitatif berarti
penelitian kualitatif berperan sebagai penunjang. Penelitian kualitatif
mempunyai fungsi tertentu yaitu: sebagai sumber hipotesis yang akan
diuji secara kuantitatif; sebagai pengembang dan pemandu instrumen-
instrumen penelitian kuantitatif seperti kuesioner, skala dan indeks
pengukuran; serta sebagai pembanding temuan-temuan kuantitatif.
3.             Penelitian yang mempergunakan kedua pendekatan dengan bobot
sama; kedua pendekatan dilakukan untuk saling mengisi kesenjangan
yang muncul pada saat survei lapangan, analisis, atau pelaporan.
Gabungan   antara   keduanya   dapat   berakhir   dengan   pemisahan
penelitian kualitatif dan kuantitatif tetapi tetap berhubungan.
Dalam penelitian pendidikan sering dijumpai dua pendekatan digunakan bersama-sama terhadap masalah yang sama. Terkait dengan hal tersebut, Sudjana (2001) berpendapat bahwa pendekatan tersebut sebenarnya bertolak dari asumsi yang berbeda, sehingga untuk persoalan yang sama sulit menggunakan metode dengan asumsi yang berbeda. Namun pemecahan masalah melalui studi yang berbeda cukup bermanfaat dalam memperkaya alternatif pemecahan masalahnya, sehingga lebih komprehensif sifatnya. Sering ditemukan pemaparan data kualitatif menggunakan statistik deskriptif serta temuan kualitatif dan kuantitatif disajikan bersama-sama. Beberapa peneliti kadang-kadang berusaha menggunakan kedua pendekatan tersebut


untuk masalah yang sama, namun seringkali mengalami kerancuan dalam penarikan kesimpulannya.


BAB IV METODE PENELITIAN PENDIDIKAN
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian hams cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
1.  Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan
suatu penelitian?
2.              Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun
dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam
menganalisis data?
3.              Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.
Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian. Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut
1.  Penelitian Historis yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa
lampau secara sistematis dan obyektif.
2.              Penelitian Deskriptif yang yang bertujuan untuk membuat deskripsi
secara  sistematis,   faktual,   dan  akurat  mengenai  fakta  dan  sifat
populasi atau daerah tertentu.
3.              Penelitian Perkembangan yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan
urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu.


4.              Penelitian Kasus/Lapangan yang bertujuan untuk mempelajari secara
intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan
suatu obyek
5.              Penelitian   Korelasional   yang   bertujuan   untuk   mengkaji   tingkat
keterkaitan antara variasi  suatu faktor dengan variasi faktor lain
berdasarkan koefisien korelasi
6.              Penelitian Eksperimental suguhan yang bertujuan untuk menyelidiki
kemungkinan     hubungan     sebab     akibat     dengan     melakukan
kontrol/kendali
7.              Penelitian   Eksperimental   semu   yang   bertujuan   untuk   mengkaji
kemungkinan hubungan  sebab  akibat dalam  keadaan yang tidak
memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi
pengganti bagi situasi dengan pengendalian
8.              Penelitian   Kausal-komparatif  yang   bertujuan   untuk   menyelidiki
kemungkinan   hubungan   sebab-akibat,   tapi   tidak   dengan   jalan
eksperimen tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari
faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
9.              Penelitian    Tindakan    yang    bertujuan    untuk    mengembangkan
keterampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta
dikaji hasilnya.
McMillan dan Schumacher (2001) memberikan pemahaman tentang metode penelitian dengan mengelompokkannya dalam dua tipe utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 4.1. Jenis-jenis Metode Penelitian

Kuantitatif
Kualitatif
Eksperimen
Non eksperimen
Interaktif
Non interaktif
True eksperimen
Deskriptif
Etnografi
Analisis konsep
Quasi eksperimen
Komparatif
Fenomenologis
Analisis sejarah
Subjek tunggal
Korelasi
Studi kasus


Survei
Teori dasar


Ex post facto
Studi kritis

Jenis-jenis penelitian lain dapat dibedakan atas dasar beberapa sumber
referensi berikut ini.


Tabel 4.2. Jenis-jenis Metode Penelitian Menurut Berbagai Referensi

SUGIYONO (2007)
HADI (1984)
Menurut Tu.juan
Penelitian Menurut Tu.juan
Penelitian Dasar (Basic Research)
Penelitian Eksploratif
Penelitian Terapan (Applied Research)
Penelitian Developmental
Menurut Metode
Penelitian Verifikatif
Penelitian Survei
Penelitian Menurut Bidang
Penelitian Expost Facto
Penelitian Pendidikan
Penelitian Eksprimen
Penelitian Pertanian
Penelitian Naturalisme
Penelitian Hukum
Penelitian Kebijakan (Policy Research)
Penelitian Ekonomi
Penelitian Tindakan (Action Research)
Penelitian Agama
Penelitian Evaluasi
Penelitian Menurut Tempatnya
Penelitian Sejarah
Penelitian Laboratorium
Menurut Tingkat Eksplanasi
Penelitian Perpustakaan
Penelitian Deskriptif
Penelitian Kancah
Penelitian Komparatif
Penelitian Menurut Tarafnya
Penelitian Asosiatif
Penelitian Deskriptif
Menurut Jenis dan Analisis Data
Penelitian Inferensial
Penelitian Kualitatif
Penelitian Menurut Pendekatannya
Penelitian Kuantitatif
Penelitian Longitudinal

Penelitian Cross Sectional
NAZIR (1999)
ARIKUNTO (2002)
Sejarah/Historis
Penelitian Menurut Tu.juan
Penelitian Sejarah Komparatif
Penelitian Eksploratif
Penelitian Yuridis atau Legal
Penelitian Pengembangan
Penelitian Biografis
Penelitian Verifikatif
Penelitian Bibliografis
Penelitian Kebijakan
Metode Deskriptif
Penelitian Menurut Pendekatan
Survei
Penelitian Longitudinal
Deskriptif berkesinambungan
Penelitian Cross Sectional
Studi Kasus
Penelitian Berdasarkan Variabel
Analisis Pekerjaan dan Aktivitas
Penelitian Deskriptif
Penelitian Tindakan (Action Research)
Eksprimen
Penelitian Perpustakaan dan Dokumenter
Penelitian Kuantitatif
Metode Eksprimental
Penelitian Non-Eksprimen
Eksprimen Absolut
Penelitian Eksprimen
Eksprimen Perbandingan
Penelitian Kualitatif
Eksprimen Sungguhan
Fenomenologis
Eksprimen Semu
Interaksi Simbolik
Grounded Research
Kebudayaan
Penelitian Expos Facto
Antropologi


Banyaknya jenis metode sebagaimana dikemukakan di atas, dilandasi oleh adanya perbedaan pandangan dalam menetapkan masing-masing metode. Uraian selanjutnya tidak akan mengungkap semua jenis metode yang dikemukakan di atas tetapi membahas secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
A. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.
Penelitian deskriptif sesuai karakteristiknya memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.  Perumusan  masalah.   Metode  penelitian  manapun   harus   diawali
dengan   adanya  masalah,   yakni   pengajuan   pertanyaan-pertanyaan
penelitian yang jawabannya harus dicari menggunakan data dari
lapangan. Pertanyaan masalah mengandung variabel-variabel yang
menjadi kajian dalam studi ini. Dalam penelitian deskriptif peneliti
dapat menentukan status variabel atau mempelajari hubungan antara
variabel.
2.              Menentukan jenis informasi yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti
perlu menetapkan informasi apa yang diperlukan untuk menjawab
pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Apakah informasi
kuantitatif ataukah kualitatif Informasi kuantitatif berkenaan dengan
data atau informasi dalam bentuk bilangan/angka seperti.
3.              Menentukan prosedur pengumpulan data. Ada dua unsur penelitian
yang diperlukan,  yakni  instrumen atau  alat pengumpul  data dan
sumber data atau sampel yakni dari mana informasi itu sebaiknya
diperoleh. Dalam penelitian ada sejumlah alat pengumpul data antara



lain tes, wawancara, observasi, kuesioner, sosiometri. Alat-alat tersebut lazim digunakan dalam penelitian deskriptif. Misalnya untuk memperoleh informasi mengenai langkah-langkah gum mengajar, alat atau instrumen yang tepat digunakan adalah observasi atau pengamatan. Cara lain yang mungkin dipakai adalah wawancara dengan guru mengenai langkah-langkah mengajar. Agar diperoleh sampel yang jelas, permasalahan penelitian harus dirumuskan se-khusus mungkin sehingga memberikan arah yang pasti terhadap instrumen dan sumber data.
4.              Menentukan prosedur pengolahan informasi  atau data.  Data dan
informasi yang telah diperoleh dengan instrumen yang dipilih dan
sumber data atau sampel tertentu masih merupakan informasi atau
data kasar.  Informasi  dan data tersebut perlu diolah agar dapat
dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
5.              Menarik kesimpulan penelitian. Berdasarkan hasil pengolahan data di
atas, peneliti menyimpulkan hasil penelitian deskriptif dengan cara
menjawab   pertanyaan-pertanyaan   penelitian   dan   mensintesiskan
semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum
permasalahan penelitian secara keseluruhan.
B. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja . Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya mengungkap semua variabel yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti


rekan kerjanya, gum, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan Iain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari. Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulan-kesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif.
Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh. Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
C. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masalah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijaksanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
Survei dapat pula dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel seperti pendapat, persepsi, sikap, prestasi, motivasi, dan Iain-lain. Misalnya persepsi kepala sekolah terhadap otonomi pendidikan, persepsi guru terhadap


KTSP, pendapat orangtua siswa tentang MBS, dan Iain-lain. Peneliti dapat mengukur variabel-variabel tersebut secara jelas dan pasti. Informasi yang diperoleh mungkin merupakan hal penting sekali bagi kelompok tertentu walaupun kurang begitu bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.
Survei dalam pendidikan banyak manfaatnya baik untuk memecahkan masalah-masalah praktis maupun untuk bahan dalam merumuskan kebijaksanaan pendidikan bahkan juga untuk studi pendidikan dalam hubungannya dengan pembangunan. Melalui metode ini dapat diungkapkan masalah-masalah aktual dan mendeskripsikannya, mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditentukan, atau menilai efektivitas suatu program.
D. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering digunakan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variabel-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi yang bertujuan menguji hipotesis, dilakukan dengan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat ditentukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubungan dengan kompetensi profesional kepala sekolah. Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
Kekuatan hubungan antar variabel penelitian ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang angkanya bervariasi antara -1 sampai +1. Koefisien korelasi adalah besaran yang diperoleh melalui perhitungan statistik berdasarkan kumpulan data hasil pengukuran dari setiap variabel. Koefisien


korelasi positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus atau kesejajaran, koefisien korelasi negatif menunjukkan hubungan yang berbading terbalik atau ketidak-sejajaran. Angka 0 untuk koefisien korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antar variabel. Makin besar koefisien korelasi baik itu pada arah positif ataupun negatif, makin besar kekuatan hubungan antar variabel.

Hubungan Berbanding Terbalik
                 Tidak      
                ada    
                Hubungan
Hubungan Berbanding Lurus
 Makna Hubungan antar Variabel Berdasarkan Koefisien Korelasi
Misalnya, terdapat korelasi positif antara variabel IQ dengan prestasi
belajar; mengandung makna IQ yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang tinggi; dengan kata lain terdapat kesejajaran antara IQ dengan prestasi belajar. Sebaliknya, korelasi negatif menunjukkan bahwa nilai tinggi pada satu variabel akan diikuti dengan nilai rendah pada variabel lainnya. Misalnya, terdapat korelasi negatif antara absensi (ketidakhadiran) dengan prestasi belajar; mengandung makna bahwa absensi yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang rendah; dengan kata lain terdapat ketidaksejajaran antara absensi dengan prestasi belajar.
Dalam suatu penelitian korelasional, paling tidak terdapat dua variabel yang harus diukur sehingga dapat diketahui hubungannya. Di samping itu dapat pula dianalisis hubungan antara dari tiga variabel atau lebih. Model hubungan antar variabel tersebut ditunjukkan dalam gambar 4.2 dan 4.3 ( X dan Y pada gambar tersebut menunjukkan variabel yang diukur).

X                                          Y
Model Hubungan antara Dua Variabel dalam Penelitian Korelasional



 Model Hubungan antara Tiga Variabel dalam Penelitian
Korelasional
Makna suatu korelasi yang dinotasikan dalam huruf r (kecil) bisa mengandung tiga hal. Pertama, kekuatan hubungan antar variabel, kedua, signifikansi statistik hubungan kedua variabel tersebut, dan ketiga arah korelasi. Kekuatan hubungan dapat dilihat dan besar kecilnya indeks korelasi. Nilai yang mendekati nol berarti lemahnya hubungan dan sebaliknya nilai yang mendekati angka satu menunjukkan kuatnya hubungan.
Faktor yang cukup berpengaruh terhadap besar kecilnya koefisien korelasi adalah keterandalan instrumen yang digunakan dalam pengukuran. Tes hasil belajar yang terlalu mudah bagi anak pandai dan terlalu sukar untuk anak bodoh akan menghasilkan koefisien korelasi yang kecil. Oleh karena itu instrumen yang tidak memiliki keterandalan yang tinggi tidak akan mampu mengungkapkan derajat hubungan yang bermakna atau signifikan.
E.   Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefmisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang


menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti hams melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, kegiatan memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi 2 kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan. Karakteristik penelitian eksperimen yaitu:
1.  Memanipulasi/merubah secara sistematis keadaan tertentu.
2.             Mengontrol variabel yaitu mengendalikan kondisi-kondisi penelitian
ketika berlangsungnya manipulasi
3.             Melakukan    observasi    yaitu    mengukur    dan    mengamati    hasil
manipulasi.
Proses penyusunan penelitian eksperimen pada prisnsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya. Secara eksplisit dapat dilihat sebagai berikut:
1.  Melakukan    kajian    secara    induktif    yang    berkaitan    dengan
permasalahan yang hendak dipecahkan
2.                  Mengidentifikasikan permasalahan
3.                  Melakukan studi litelatur yang relevan, mempormulasikan hipotesis
penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.
4.                  Membuat rencana penelitian mencakup: identifikasi variabel yang
tidak   diperlukan,   menentukan   cara   untuk   mengontrol   variabel,
memilih desain eksperimen yang tepat, menentukan populasi dan
memilih sampel penelitian, membagi  subjek ke dalam kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen, membuat instrumen yang sesuai,
mengidentifikasi    prosedur   pengumpulan    data   dan   menentukan
hipotesis.
5.                  Melakukan kegiatan eksperimen (memberi perlakukan pada kelompok
eksperimen)
6.                  Mengumpulkan data hasil eksperimen
7.                  Mengelompokan dan mendeskripsikan data setiap variabel
8.                  Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang sesuai
9.                  Membuat laporan penelitian eksperimen.
Dalam penelitian eksperimen peneliti harus menyusun variabel-variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan hubungan sebab akibat diantara   variabel-variabel   yang   terjadi.   Variabel-variabel   yang   diteliti


termasuk variabel bebas dan variabel terikat sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian. Dalam bidang pembelajaran misalnya yang diidentifikasikan sebagai variabel bebas antara lain: metode mengajar, macam-macam penguatan, frekuensi penguatan, sarana-prasarana pendidikan, lingkungan belajar, materi belajar, jumlah kelompok belajar. Sedangkan yang diidentifikasikan variabel terikat antara lain: hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, kemandirian siswa.
F.    Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
Penelitian tindakan bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan langkah pemecahan terhadap masalah. Langkah-langkah pokok yang ditempuh akan membentuk suatu siklus sampai dirasakannya ada suatu perbaikkan. Siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya yaitu: (1) penetapan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan perbaikan, (3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, (4) analisis dan refleksi, dan (5) perencanaan tindak lanjut. Mengingat besarnya manfaat penelitian tindakan dalam bidang pendidikan, uraian spesifik akan dijelaskan dalam materi tersendiri.
G.  Metode Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan Pengembangan


atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka mengembangkan suatu produk bam atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, sistem manajemen, dan Iain-lain.
Penelitian dalam bidang pendidikan pada umumnya jarang diarahkan pada pengembangan suatu produk, tetapi ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru berkenaan dengan fenomena-fenomena yang bersifat fundamental, serta praktek-praktek pendidikan. Penelitian dan pengembangan merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan. Sering dihadapi adanya kesenjangan antara hasil-hasil penelitian dasar yang bersifat teoretis dengan penelitian terapan yang bersifat praktis. Kesenjangan ini dapat dihilangkan atau disambungkan dengan penelitian dan pengembangan. Dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan, terdapat beberapa metode yang digunakan, yaitu metode: deskriptif, evaluatif, dan eksperimental.
Penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada. Kondisi yang ada mencakup: (1) Kondisi produk-produk yang sudah ada sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar (embrio) produk yang akan dikembangkan, (2) Kondisi pihak pengguna (dalam bidang pendidikan misalnya sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, serta pengguna lainnya); (3) Kondisi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan penggunaan dari produk yang akan dihasilkan, mencakup unsur pendidik dan tenaga kependidikan, sarana-prasarana, biaya, pengelolaan, dan lingkungan pendidikan di mana produk tersebut akan diterapkan.
Metode evaluatif, digunakan untuk mengevaluasi produk dalam proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk penelitian dikembangkan melalui serangkaian uji coba dan pada setiap kegiatan uji coba diadakan   evaluasi,   baik   itu   evaluasi   hasil   maupun   evaluasi   proses.


Berdasarkan temuan-temuan pada hasil uji coba diadakan penyempurnaan (revisi model).
Metode ekspenmen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap uji coba telah ada evaluasi (pengukuran), tetapi pengukuran tersebut masih dalam rangka pengembangan produk, belum ada kelompok pembanding. Dalam eksperimen telah diadakan pengukuran selain pada kelompok eksperimen juga pada kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara acak atau random. Pembandingan hasil eksperimen pada kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan tingkat keampuhan dan produk yang dihasilkan.


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Brannen.   1997. Mixing Methods Qualitative and Quantitative Research diterjemahkan olehKurde. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Danim,   Sudarwan.   2000.  Metode Penelitian  untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Bumi Aksara.
Danim,  Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif . Bandung: Pustaka Setia.
Davis, Duane dan Conseza Robert.  1985. Business Research for Decision Making. California: Wadsworth Inc.
Dharma,surya. 2008. Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian pendidikan. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional
Faisal, Singgih. 1990. Penelitian Kualitatif. Malang: YA3
Leedy, Paul D. 1997. Practical Research: Planning and Design. New Jersey: PrecticeHall.
McMillan, J.H. and Schumacher, S. 2001. Research in Education. New York: Longman, Inc.
Nasution,   S.   1996.  Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif  Bandung: Tar si to.
Patilima, Hamid. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Patton, M.Q. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods. Newbury Park: Sage Publications.
Sarwono, Jonathan. 1995. Penuntun Penelitian Praktis, Bandung: Universitas Kristen Maranatha Poerwandari,   K.   1998.  Pendekatan Kualitatif dalam  Penelitian  Sosial. Jakarta: LPSP3-UI.
Sudjana, N. dan Ibrahim, R. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana. 2001. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. 1997. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono.  2007. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi.    2003.    Metodologi    Penelitian    Pendidikan    (Kompetensi    dan Praktiknya). Jakarta: Bumi Aksara.



Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suriasumantri, Yuyun. 1990. Filsafatllmu. Jakarta: Sinar Harapan
Suryabrata, Sumadi.  1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Strauss and Corbin. 1990. Basics of Qualitative Research. California: Sage Publication.

source : Mr. Mantra documents. Unmas Denpasar







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar